Pertemuan Dwimingguan HAAJ Ke- 16
Sabtu, 7
November 2015 / 24 Muharram 1437H
Mitologi dan Rasi Bintang
Kali
ini ada yang berbeda dari pertemuan rutin HAAJ sebelumnya. Ya, di pertemuan
biasa, pemateri biasa diisi oleh pengurus-pengurus HAAJ ataupun dari
narasumber-narasumber yang sudah ahli atau pakarnya dalam menguasai materi yang
akan ia bahas tersebut. Dalam pertemuan ke-16 ini, HAAJ menampilkan hal yang
baru. Yap, pemateri kali ini berasal dari pelajar muda, Polaris Astronomy Club
SMAN 38 Jakarta, yaitu Adhwa Rana Sausan a.k.a Ketua Kastro kami periode
2015-2016, hehehe.
Oleh
karena itu, sebelumnya kami telah mempersiapkan pasukan dari anak-anak KIRSTAL (karena
Kastro Polaris sendiri merupakan bagian dari KIRSTAL) untuk meramaikan suasana
di pertemuan rutin HAAJ. Pasukan kami (untuk selanjutnya sebut saja : Bolangers)
yang terdiri dari 16 personil: sang pemateri sendiri; Rana, Saya, Hanna, Amel,
Tasya, Mefi, Shabrina, Anis, Mujahid, Riqy, Gagas, Novryan, Edwin, Citra dan 2
alumni kami ‘tercinta’, yaitu kak Gelion dan kak Dhimas, hehehe.
Perjalanan Bolangers pun dimulai!
Suasana
siang hari yang berselimut awan di ibukota tak mengurungkan niat Bolangers
untuk mengikuti ceramah sore astronomi di Planetarium Jakarta. Melalui perjalanan
KRL Commuter Line hingga sampai di St. Cikini, Bolangers pun berjalan menuju ‘tkp’. Di perjalanan, Bolangers
singgah sejenak di minimarket untuk mengisi ‘bensin’. Sebenarnya lebih pas ‘ngadem
’ daripada jajan di sana. Karena saya sendiri pun cuma ngadem,
heheh. Setelah itu, bolangers tak lupa untuk solat Ashar, karena saat
itu sudah sekitar jam 15:30. Setelah solat, Bolangers pun bergegas
menuju Planetarium yang kebetulan lokasinya berada di seberang masjid tempat Bolangers solat.
Dan
sampailah Bolangers di tempat tujuan. Jam telah menunjukkan pukul 16:00.
Seharusnya agenda sudah dimulai, namun karena keterlambatan teknis dari pihak
HAAJ akhirnya agenda pun dimulai pukul 16:30. Rana sudah siap dengan materi
yang akan ia sampaikan. Sayangnya, Bolangers duduk terpisah menjadi 2
koloni (cewe dan cowo). Kami, para Srikandi duduk di barisan depan agar
tetap berada di dekat Rana /ea (niat sesungguhnya agar dekat dengan kipas
angin, hehe). Dan ‘bapak-bapak’, mereka duduk di belakang (entah mengapa,
saya tak tahu alasannya). Yes, akhirnya materi pun dimulai !
Kita,
sebagai manusia pasti membutuhkan manusia lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Tentunya, saat ini sangat sulit bagi kita untuk lepas dari bantuan orang lain.
Namun, apa yang dirasakan manusia pada beratus-ratus tahun silam? Tentunya
sangat berbeda dengan kita saat ini, karena populasi manusia yang masih sedikit
kala itu membuat mereka lebih sering berusaha sendiri, untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Minimnya
interaksi antar manusia kala itu, membuat mereka menjadi lebih dekat dengan
alam. Manusia itupun akhirnya belajar dari alam. Merenung, berpikir kalau alam
jauh lebih besar dari si manusia itu sendiri. Mereka melihat gunung, lautan,
dan langit yang hakikatnya jauh lebih besar dan kuat dari diri mereka sendiri. Dan
munculah kepercayaan akan hubungan alam sekitar dengan sifat, perilaku, dan
masa depan manusia. Pada zaman dahulu, tentunya saat belum ada gedung-gedung
tinggi, perumahan, jalan raya dan polusi cahaya, malam hari pun mereka habiskan
untuk melihat bintang-bintang. Mereka mengamati pergerakan bintang-bintang
setiap malamnya, dan menggambarkan pola-pola tersendiri untuk memudahkan
mengetahui pergerakan ‘mereka’ .
Dari
pergerakan benda langit seperti bintang-bintang, tingkah laku mereka yang
nampak di langit membuat manusia kala itu percaya akan adanya hubungan yang
sangat dekat antara mereka dengan benda-benda langit tersebut, yang mungkin
dapat mempengaruhi kehidupannya. Nah, dari sinilah mulai muncul cerita-cerita
tentang aktivitas benda-benda langit yang dikaitkan dengan perilaku manusia,
atau biasa kita sebut dengan ‘mitologi rasi bintang’.
Lalu
sebenarnya apakah mitologi itu? Istilah mitologi sendiri
berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu mýthos
dan lógos. Mýthos berarti kisah atau legenda, sedangkan lógos
berarti penuturan. Istilah tersebut telah dipakai sejak abad ke-15, dan
kurang lebih berati ‘ilmu yang menjelaskan tentang mitos’. Di
masa sekarang, mitologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997)
adalah ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi serta
dongeng suci mengenai kehidupan dewa dan makhluk halus di
suatu kebudayaan. Jadi, mitologi
merupakan ilmu yang menjelaskan tentang mitos yang berisi dongeng suci mengenai
kehidupan dewa, dan makhluk halus di suatu kebudayaan.
 |
|
Rasi bintang Orion yang
sering digunakan dalam mitologi
|
Dan apakah
rasi bintang itu? Rasi bintang adalah sebuah konfigurasi gambar
yang terbentuk dari garis-garis khayal yang ditarik dari titik-titik bintang
terang yang tampak dari bumi. Benda langit seperti bintang, bulan dan
planet, sejauh apapun jarak mereka, terlihat di langit sebagai sebuah gambar
datar yang melengkung, mengikuti bentuk dari langit bumi. Jadi, rasi bintang
merupakan konfigurasi gambar yang terbentuk dari garis-garis khayal yang
ditarik dari titik bintang terang. Pada kenyataannya, konfigurasi gambar
dengan pola garis yang ada di rasi bintang sangat jauh berbeda (yang secara
kasat mata sangat sulit digambarkan), oleh karena itu dalam membuat pola rasi
bintang, para astronom zaman dahulu perlu berpikir ‘out of the box’.
Pada sidang umum Persatuan Astronomi Internasional tahun 1922,
secara resmi terdapat 88 nama rasi bintang, seperti: Andromeda, Aries, Aquarius, Canis Major, Canis
Minor, dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana cara membaca suatu rasi bintang
tersebut? Untuk melihat atau membaca suatu rasi bintang, waktu yang tepat yaitu
pada saat musim kemarau, di mana pada saat itu langit terlihat cerah. Untuk lokasinya, di dataran tinggi atau pegunungan yang sangat
minim polusi.
Nah,
dari dua pengertian yang ada dapat disimpulkan bahwa mitologi rasi bintang
merupakan mitos yang berisi dongeng suci mengenai kehidupan dewa, dan
makhluk halus yang digambarkan dengan pergerakan bintang-bintang yang telah
ditandai dengan suatu pola atau konfigurasi gambar tertentu di suatu
kebudayaan.
Seiring
perkembangannya, mitologi rasi bintang sendiri dapat diklasifikasikan berdasarkan
3 aspek utama: tempat, waktu,
dan agama. Mitologi di setiap daerah satu dengan yang lain dapat berbeda,
misalnya mitologi Yunani yang sangat berbeda dengan mitologi Cina. Waktu juga
sangat mempengaruhi meluasnya pengetahuan tentang mitologi sendiri, walaupun
sudah terkesan kuno, namun mitologi rasi bintang masih dapat diketahui
ceritanya hingga saat ini, berkat cerita dari mulut ke mulut oleh nenek moyang
kita. Begitu pula mitologi berdasarkan agama, seperti Yahudi, Nasrani dan
Islam. Pada masa kejayaan Islam abad pertengahan contohnya, saat itu perkembangan
ilmu pengetahuan sangat pesat, termasuk dalam bidang astronomi dan astrologi (salah
satu cabang ilmu ini adalah mitologi). Ada beberapa ilmuan yang memperdalam astrologi
dalam sudut pandang Islam. Singkatnya, astrologi di Islam merupakan hasil
penghayatan dan kesadaran lebih mendalam terhadap alam semesta (termasuk
benda-benda langit) sebagai ayat-ayat
Allah Swt, sebagaimana disebutkan dalam ayat: “ Kami akan memperlihatkan
kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri
mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.
Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? “ (QS. Fussilat/41 : 53). Contoh
sosok mitologi Islam diantaranya Buroq, Dabbad al-Ard, Ya’juj dan Ma’ju, Imam
Mahdi, Dajjal, dll.

Rasi
bintang sendiri bertambah seiring perkembangan zaman. Sejarah mencatat sejak
Horner (abad ke-8) yang menyebutkan beberapa rasi bintang hingga pada tahun
1922, IAU (International Astronomycal Union), dibantu oleh seorang
astronom berkebangsaan Amerika Serikat, Henry Norris Russell, secara resmi
telah menetapkan sebanyak 88 rasi bintang untuk digunakan secara internasional.
36 diantaranya berada pada belahan langit utara dan 52 rasi lainnya berada pada
belahan langit selatan. 6 tahun setelahnya, IAU juga meresmikan batas-batas
wilayah rasi bintang tersebut satu sama lain, berkat bantuan dari seorang
astronom asal Belgia, Eugène Joseph Delport.
 |
|
Rasi bintang Crux sebagai penanda arah Selatan
|
Sebenarnya, apakah fungsi dari rasi bintang itu sendiri? Fungsi rasi
bintang sesungguhnya bukanlah untuk mengetahui masa depan manusia,
kepribadian seseorang, dan kekayaan seseorang. Melainkan sangat bermanfaat
dalam bidang navigasi (rasi Crux sebagai penanda arah Selatan), pertanian (rasi
Waluku sebagai penanda musim panen), agama, klimatologi (rasi Orion sebagai
penanda awal musim dingin dan rasi Lyra dan Aquila sebagai penanda awal musim
panas), tata koordinat, dan masih banyak lagi.
Ya,
memang sebelumnya saya berpikir mitologi bukanlah hal yang menarik untuk
dibahas. Namun, pertemuan rutin kali ini dapat mengubah sudut pandang saya
sendiri mengenai cakupan mitologi yang luas, tidak hanya seperti yang saya
bayangkan sebelumnya bahwa mitologi hanyalah mitos yang kurang menarik untuk
dikaji, karena hanya berkaitan dengan horoskop. Dari penjelasan Rana, bahwa
mitologi terbagi menjadi 3 aspek utama dan diskusi di sesi ke-2 membuat saya
tertarik untuk mengkajinya dalam sudut pandang yang mungkin berbeda dari
kebanyakan orang. Yakni mitologi Islam dan mitologi Indonesia. Hehehe.
Sebagai
pemuda Indonesia, sudah selayaknya kita melestarikan cerita-cerita mengenai
mitologi asli dari Nusantara agar tidak tenggelam seiring perkembangan zaman.
Cerita-cerita itu merupakan sejarah bangsa dan sejarah penting agar menjadi
pelajaran di masa kini dan lebih maju di masa depan!
Waktu
terus berlalu. Pukul 20:00 agenda rutin dwimingguan HAAJ ke-16 berakhir, Bolangers
kembali berkumpul, bercanda dan bermain, tak lama Bolangers pun
meninggalkan ruang kelas lantai 2, dan turun lalu meninggalkan Planetarium.
Perjalanan malam Bolangers dipenuhi dengan genangan air dan tanah yang becek.
Bolangers menyusuri Jalan Raya Cikini hingga tiba kembali di St. Cikini.
Ya, memang ada beberapa dari kami yang pulang terlebih dahulu. Saat itu tersisa
10 orang, Bolangers pulang menaiki KRL Commuter Line dan berada dalam
satu gerbong, namun tujuan kami berbeda-beda. Dan akhirnya, kami pun turun di
stasiun tujuan masing-masing. Malam minggu yang cukup melelahkan namun
menyenangkan!
Sekian! Thanks!
Assalamu’alaikum Wr.Wb
-Hanifa- SMAN 38 JKT-